Satu Malam Musim Dingin Skandinavia di Indonesia

Satu Malam Musim Dingin Skandinavia di Indonesia

Konser yang berlangsung hampir dua jam itu seakan-akan membuat penonton terserap dalam melodi yang lembut di kala musim dingin.

Jakarta, Sabtu (3/5/2025) sore. Angin berhembus kencang dan langit mulai tampak gelap. Di Aula Simfonia Jakarta, Kemayoran, sejarah baru tercipta. Untuk pertama kalinya, Tokyo Symphony Orchestra bertandang ke Indonesia bekerjasama dengan Amadeus Symphony Orchestra dalam konser Winter is Coming.

Terkhusus malam itu, pecinta musik klasik di Indonesia dapat menikmati buaian musik musim dingin para komposer dari negara-negara Skandinavia. Sebagai pemimpin konduktor orkestra, Henrik Hochschild bekerjasama dengan pendiri Yayasan Musik Amadeus, Grace Soedargo, untuk memilih tema konser. 

“Kami memilih musik Skandinavia sebagai tema karena tidak ada yang lebih kontras di Indonesia dibandingkan dengan musim dingin. Skandinavia berada di Eropa bagian utara sehingga memiliki musim dingin terdingin,” jelas Hochschild, musisi kelahiran Jerman itu, saat diwawancara setelah konser. 

Kami memilih musik Skandinavia sebagai tema karena tidak ada yang lebih kontras di Indonesia dibandingkan dengan musim dingin.

Konser dibuka dengan ”Suite for Strings, Op. 1” karya Carl Nielsen (1865-1931). Karya Nielsen yang paling terkenal ini dibuat ketika ia berusia 23 tahun. Musik ini terbagi dalam tiga bagian, yakni prelude yang mencerminkan romantisme Skandinavia. Kemudian bagian intermezzo, irama waltz yang terasa masuk ke drama klasikal dan terakhir bagian finale. 

Mereka juga turut membawakan karya komposer terkenal Finlandia, yakni Jean Sibelius (1865-1957). Musik pertama yang dimainkan adalah  ”Pelléas et Mélisande, Op. 46 JS 147 ” yang memiliki sembilan bagian. Namun, yang dimainkan hanya tiga, yakni ”At the Castle Gate”, ”The Three Blind Sisters”, dan ”Mélisande at the Spinning Wheel”. 

Komposisi musik tersebut terdiri dari cor anglais, flute, klarinet, terompet dan timpani. Di awal, temponya lambat dan perlahan-lahan cepat sehingga meninggalkan impresi dramatis. Wajar saja, musik ini ditujukan untuk latar teater yang berkisah tentang seorang perempuan muda, Mélisande yang menikah dengan Golaud dan hidup di istana. Namun, ia berselingkuh dengan Pelléas. Kecemburuan memperparah situasi. 

Selain itu, dimainkan pula musik ”Scènes Historiques II, Op. 66, JS 82 ” yang memiliki tiga bagian, ”The Chase”, ”The Love Song”, dan ”At the Drawbridge”. Musik ini memacu adrenalin dengan tensinya yang cepat naik dan turun. Menariknya, ”Scènes Historiques” merupakan mahakarya Sibelius di Finlandia yang pertama kali dimainkan pada tahun 1912 dan memunculkan semangat patriotisme untuk kemerdekaan negara.  

Program ketiga sekaligus utama dari konser Winter is Coming adalah ”Flute Concerto in D major, Op. 238, ICR 25 ” karya Carl Reinecke (1824-1910) yang dibawakan oleh solois flute Emma Hochschild. Musik yang ini merefleksikan percampuran elemen tradisionalisme, pasca romantisisme, dan modernisme.

Karya tersebut pertama kali ditampilkan pada tahun 1909 di Leipzig, Jerman. Pada bagian akhir, suara latar biola terdengar gelap dan berat. Namun, harmoni flute Emma yang perlahan-lahan menjadi penyelamat bahwa seakan-akan ada kecerahan di balik itu. 

Penggambaran alam Norwegia juga terlukis dalam musik Edvard Grieg (1843-1907), ”Peer Gynt, Op. 23”. Musik ini merupakan karya insidental untuk mengiringi teater untuk Henrik Ibsen pada 1867 dengan judul yang sama. Karya ini merupakan bentuk satir dari kultur Norwegia. Dikisahkan ada seorang petani yang memesona, tapi arogan, Gynt. Ia menculik pengantin perempuan bernama Ingrid dari pernikahannya. Tapi, Gynt menelantarkan Ingrid untuk bertualang. 

Dari alur tersebut, musik ini terbelah menjadi tiga bagian. Yang pertama adalah prolog cerita, ”Morning Mood”. Berikutnya ada ”The Abduction of the Bride” yang ciri khas musiknya lebih sendu. Terakhir adalah ”Solveig’s Song” dengan permainan harpa yang bertujuan untuk memberikan harapan pada akhir musik. 

Perbedaan

Konser yang berlangsung hampir dua jam itu seakan-akan membuat penonton terserap dalam melodi yang lembut di kala musim dingin. Di negara-negara Skandinavia, kemunculan matahari yang hanya sebentar menjadi identik setiap musim dingin berlangsung. 

Hochschild menjelaskan, musim dingin bukan melulu tentang gelap dan salju, tetapi juga kenyamanan dan kehangatan. Tidak seperti di Indonesia yang disinari matahari sepanjang hari, di Eropa mereka memiliki perapian dan ruang hangat. Ini juga yang menjadi alasan dari kejutan dimainkannya ”Concerto No. 4 in F minor Winter, Op. 8, RV 297” karya Antonio Vivaldi (1678-1741). 

“Musim dingin selalu tergantikan oleh musim semi, panas, dan gugur. Itu lah yang menjadikan musik Skandinavia sangat menarik dan memiliki kontras dalam dinamika orkestra. Melodi yang sama dimainkan ulang dengan cara, instrumen, dan harmoni yang berbeda,” katanya. 

Tujuan utama proyek ini adalah pertukaran budaya. Saya sangat bangga dan para member juga senang bisa bermain di aula ini.

Malam itu, Amadeus Symphony Orchestra (ASO) menjadi perwakilan Indonesia yang bermain bersama Tokyo Symphony Orchestra (TSO). Mereka menampilkan 60 musisi, pemain profesional dari TSO sejumlah 9 orang, pemain dari Thailand 8 orang, dan selebihnya pemain dari ASO.

Kelompok orkes Jepang tersebut dibentuk satu tahun setelah perang dunia kedua berakhir, yakni 1946. Sejak 2023, TSO sedang menjalankan kegiatan besar bertajuk Asia Project yang bekerjasama meluncurkan konser di berbagai negara Asia. 

Managing director Tokyo Symphony Orchestra, Yoshitaka Hirooka menjelaskan Asia Project bertujuan untuk menggaet lebih banyak audiens dari negara luar dan mengembangkan kultur musik klasik.

“Tujuan utama proyek ini adalah pertukaran budaya. Saya sangat bangga dan para member juga senang bisa bermain di aula ini,” ucapnya saat diwawancara sebelum konser mulai. 

Get In Touch

Address

Ruko Simprug Galleri blok V Jl. Teuku Nyak Arif No.10 Simprug, Jakarta Selatan 12220

Hours

Mon - Fri 9:00 am - 6:00 pm